Pacari Perempuan Indonesia lewat Media Sosial, WNA asal Afrika Tipu Korban hingga Miliaran Rupiah

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Sesi Konferensi Pers
Sesi Konferensi Pers

i

NUSABARU - Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Timur membongkar sindikat penipuan daring lintas negara bermodus love scamming yang memanfaatkan hubungan asmara palsu untuk memperdaya puluhan korban di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam kasus ini, tiga orang ditetapkan sebagai tersangka, terdiri atas dua warga negara asing (WNA) dan satu warga negara Indonesia (WNI). Dari hasil penyelidikan sementara, sebanyak 53 korban telah teridentifikasi dengan total kerugian mencapai sekitar Rp1,1 miliar.

Direktur Reserse Siber Polda Jawa Timur, Kombes Bimo Ariyanto, mengatakan pengungkapan kasus tersebut merupakan hasil kolaborasi Direktorat Reserse Siber Polda Jatim bersama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jawa Timur, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Surabaya, dan Polresta Sidoarjo.

“Hari ini kami dari Direktorat Siber Polda Jatim bersama jajaran Imigrasi dan Polresta Sidoarjo berhasil mengungkap dugaan tindak pidana penipuan online dengan modus percintaan atau love scamming,” kata Bimo, Senin, 22 Juni 2026.

Polisi menetapkan dua WNA, yakni Pucu Kevin Prince asal Ghana dan Adse Vitus asal Pantai Gading, serta seorang WNI bernama Lilik Nur Hamidah sebagai tersangka. “Kami menetapkan ketiga tersangka karena berperan aktif dalam menjalankan penipuan tersebut,” ujarnya.

Dalam pengungkapan kasus tersebut, polisi turut menyita sejumlah barang bukti berupa laptop, telepon seluler, kartu SIM, buku rekening, kartu ATM, dan berbagai perangkat elektronik lain yang ditemukan di apartemen para pelaku di Surabaya.

Penyidik mengungkap, sindikat ini secara khusus menyasar perempuan berusia 45 hingga 60 tahun melalui berbagai platform media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Para pelaku lebih dulu membangun kedekatan emosional dengan korban melalui percakapan intensif selama berhari-hari hingga berbulan-bulan.

Mereka memosisikan diri sebagai sosok pria mapan, religius, dan matang secara usia agar mudah mendapatkan kepercayaan korban. “Pelaku berusaha membangun kedekatan dengan korban sehingga tercipta hubungan layaknya orang yang sedang berpacaran,” kata Bimo.

Dalam menjalankan aksinya, pelaku utama menggunakan identitas palsu bernama Haji Kamal Zaki. Nama tersebut sengaja dipilih untuk membangun citra sebagai sosok yang religius dan berwibawa sehingga lebih mudah diterima oleh korban yang sebagian besar berada pada usia matang.

“Yang bersangkutan mengaku sebagai Haji Kamal Zaki. Mereka melakukan percakapan melalui telepon, video call, dan chat secara berulang sehingga terjalin hubungan emosional dengan korban,” ujarnya.

Setelah berhasil memperoleh kepercayaan korban, para pelaku mulai menawarkan hadiah bernilai tinggi, seperti jam tangan mewah, laptop, hingga barang-barang mahal lainnya. Namun hadiah tersebut sebenarnya tidak pernah ada. Korban kemudian dihubungi kembali dan diberi informasi palsu bahwa paket tertahan di bea cukai atau mengalami kendala administrasi keimigrasian sehingga membutuhkan biaya tambahan.

Korban yang sudah terlanjur percaya kemudian diminta mengirimkan sejumlah uang agar barang tersebut bisa dilepaskan. “Korban diminta mengirimkan uang untuk mengurus barang tersebut supaya sampai ke tangan korban. Padahal barang itu tidak pernah ada,” kata Bimo.

Dalam sindikat tersebut, Lilik Nur Hamidah berperan sebagai petugas ekspedisi palsu.
Ia menghubungi korban dan mengaku bahwa paket hadiah yang dikirim dari luar negeri tertahan di bea cukai dan membutuhkan biaya tebusan. “Lilik berpura-pura menjadi petugas ekspedisi, lalu mengirim pesan kepada korban bahwa paket ditahan pihak bea cukai dan meminta sejumlah uang,” ujarnya.

Tak hanya itu, Lilik juga berperan sebagai admin sekaligus pemegang rekening penampung hasil kejahatan sebelum dana dibagi kepada seluruh pelaku. Berdasarkan pendataan sementara, terdapat 53 korban yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Sebanyak 22 korban berasal dari Jawa Timur, di antaranya Surabaya, Bondowoso, Gresik, Pacitan, Madiun, Kota Pasuruan, Mojokerto, Magetan, Nganjuk, Pamekasan, dan Sampang. Sindikat tersebut diketahui telah beroperasi sejak Agustus 2025.

Dari penelusuran transaksi rekening, penyidik menemukan perputaran dana hasil kejahatan mencapai sekitar Rp1,1 miliar. “Kerugian korban bervariasi, mulai dari belasan juta rupiah hingga ada yang mencapai Rp100 juta,” ujar Bimo.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jawa Timur, Novianto Sulastono, mengungkapkan bahwa proses pengungkapan kasus ini juga menemukan pelanggaran keimigrasian.

Empat WNA sempat diamankan, namun dua di antaranya terbukti melakukan pelanggaran administrasi keimigrasian berupa penyalahgunaan izin tinggal dan overstay.
Bahkan, salah satu WNA tercatat melebihi batas izin tinggal hingga 885 hari.

“Hasil kolaborasi Imigrasi Jawa Timur, Direktorat Reserse Siber Polda Jatim, dan Polresta Sidoarjo menemukan empat WNA dan satu WNI yang terlibat. Dari empat WNA tersebut, dua orang terbukti melakukan pelanggaran keimigrasian,” kata Novianto.

Kasus ini masih terus dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan adanya pelaku lain maupun korban tambahan yang belum melapor. Polda Jatim mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap perkenalan di media sosial yang terlalu cepat mengarah pada hubungan personal, terlebih jika disertai janji hadiah dari luar negeri dan berujung pada permintaan transfer uang. (Red)

Berita Terbaru

Komisi A DPRD Surabaya Minta Pemkot Lakukan Pemutakhiran Data Kependudukan

Komisi A DPRD Surabaya Minta Pemkot Lakukan Pemutakhiran Data Kependudukan

Senin, 12 Okt 2026 20:05 WIB

Senin, 12 Okt 2026 20:05 WIB

NUSABARU - Komisi A DPRD Kota Surabaya menyoroti akurasi data kependudukan dan kesiapan pelayanan administrasi kependudukan menyusul kebijakan penempatan…

Pemkot Surabaya Tertibkan Aset di Jalan Nambangan, Bangunan Tanpa Dasar Hukum Ditindak

Pemkot Surabaya Tertibkan Aset di Jalan Nambangan, Bangunan Tanpa Dasar Hukum Ditindak

Senin, 12 Okt 2026 12:43 WIB

Senin, 12 Okt 2026 12:43 WIB

NUSABARU - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD)…

Bank Jatim Perkuat Sinergi dengan DPD REI Jawa Timur, Percepat Penyaluran Kredit Perumahan

Bank Jatim Perkuat Sinergi dengan DPD REI Jawa Timur, Percepat Penyaluran Kredit Perumahan

Senin, 12 Okt 2026 12:39 WIB

Senin, 12 Okt 2026 12:39 WIB

NUSABARU - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pengembang perumahan sekaligus penyedia…

Dukung Digitalisasi Pasar Keputran, BRI Regional Office Surabaya Hadirkan Fasilitas WiFi untuk Permudah Transaksi QRIS

Dukung Digitalisasi Pasar Keputran, BRI Regional Office Surabaya Hadirkan Fasilitas WiFi untuk Permudah Transaksi QRIS

Sabtu, 10 Okt 2026 22:55 WIB

Sabtu, 10 Okt 2026 22:55 WIB

NUSABARU – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui BRI Regional Office Surabaya terus memperkuat komitmennya dalam mendukung transformasi digital sektor …

Pemkot Surabaya Segel 64 Unit Rusunawa Tanah Merah, Penghuni Diminta Tertib

Pemkot Surabaya Segel 64 Unit Rusunawa Tanah Merah, Penghuni Diminta Tertib

Sabtu, 10 Okt 2026 18:04 WIB

Sabtu, 10 Okt 2026 18:04 WIB

NUSABARU - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyegel 64 unit Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Tanah Merah II Blok A, Rabu (7/10/2026). Penertiban ini…

Bank Jatim Resmi Buka Kantor Cabang Balikpapan, Perkuat Kolaborasi Ekonomi Jawa Timur dan Kalimantan Timur

Bank Jatim Resmi Buka Kantor Cabang Balikpapan, Perkuat Kolaborasi Ekonomi Jawa Timur dan Kalimantan Timur

Sabtu, 10 Okt 2026 17:58 WIB

Sabtu, 10 Okt 2026 17:58 WIB

NUSABARU — PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) resmi membuka Kantor Cabang Balikpapan pada Jumat (9/10).  Peresmian ini menjadi momentum pe…