NUSABARU - Gejolak energi dunia sudah berimbas kepada perikanan. Pengusaha perikanan tangkap skala besar dan menengah akhir April sudah merasakan harga solar non subsidi yang merangkak naik tinggi. Nelayan kecil juga terdampak ketersediaan solar yang belum mudah didapatkan.
“Saya sudah cek ke nelayan di Trenggalek dan berdialog langsung dengan mereka. Solar subsidi masih aman dan harganya tidak naik, namun saat ini belum semua melaut karena cuaca sedang terang bulan dan ombak besar” kata Riyono Caping Aleg DPR FPKS dapil 7 Jatim.
Baca juga: Gubernur Khofifah Dampingi Wapres Gibran di Haul KH Abdul Wahab
Dalam catatan di APBN solar subsidi untuk nelayan di bawah 30 GT mengalami sedikit penurunan kisaran 1,3% dibanding 2025. Alokasi untuk 2025 sebesar 18.41 Juta KL dengan realisasi 18.88 juta KL artinya melebihi kuota yang disediakan. Alokasi 2023 sebanyak 17.40 juta KL dengan realisasi 17.62 juta KL atau hanya sekitar 92,7%.
“Solar subsidi untuk nelayan dengan harga Rp6.800 per liter pemerintah memberikan subsidi Rp1.000 per liter. Seharusnya solar subsidi harganya Rp7.800 per liter. Harga ini masih terjangkau dan meringankan para nelayan kecil kita” tambah Riyono Caping.
Baca juga: Produksi Padi Jatim Diprediksi Naik Hingga 5 Persen dan Konsisten Surplus
Kehadiran negara bagi nelayan wajib cepat dan responsif. Kondisi energi yang tidak menentu membuat negara harus terus siap dan membela kepentingan nelayan kecil.
“90% protein dunia dari ikan dan hasil laut dihasilkan oleh nelayan kecil kita, artinya keberadaan mereka untuk tetap bisa bekerja dan melaut akan melindungi hampir 3 juta rumah tangga nelayan” tambah Riyono Caping.
Baca juga: Tanggapi Polemik HRS-Dudung, Habib Muda Jatim Ini Ajak Semua Pihak Bijak
Riyono hadir langsung dan berdialog bersama nelayan dan pemangku kepentingan di dapilnya Pacitan dan Trenggalek. Keluhan dan masukan untuk negara di antaranya solar harus mudah didapat, harga ikan bagus dan bantuan untuk kelangsungan ekonomi pesisir. (Red)
Editor : Redaksi