NUSABARU - Krisis energi masuk ke wilayah pesisir khususnya nelayan dan pelaku usaha perikanan. Harga BBM non subsidi di darat sudah naik merambah ke BBM non subsidi bagi pelaku usaha perikanan. Untuk BBM subsidi bagi nelayan kecil di bawah 5 GT dipastikan tidak akan naik, perlu dijaga dan dihitung betul agar kebutuhan nelayan kecil tetap aman.
“Krisis energi akan membawa dampak kepada pelaku usaha perikanan tangkap, PKS meminta agar BBM nelayan kecil di bawah 5 GT tersedia dan harga tetap” papar Riyono Caping Ketua DPP PKS Bidang Petani Peternak Nelayan.
Saat ini jumlah nelayan kecil di bawah 5 GT kurang lebih ada 200.000, kapal di atas 30 GT sejumlah 5000 kapal. Hampir 90% kapal tangkap adalah nelayan kecil one day fishing dengan hasil tangkapan yang digunakan untuk hidup sehari - hari.
“Nelayan kecil insyaallah BBM subsidi harganya tidak akan naik, tetap 6800/liter. Nelayan mendapatkan subsidi 1000 rupiah/liter. Non subsidi pada harga 12.000 - 13.000 per liter. Tapi saat ini harga di level pelaku usaha perikanan kapal tangkap diatas 30 GT sudah mencapai 25.000 - 28.500/liter. Ini harga cukup memberatkan bagi pelaku usaha” tambah Riyono Caping.
Kondisi diatas membuat usaha perikanan tangkap cukup berdampak, biaya 60�ri BBM akan membengkak besar. pemerintah perlu segera ambil langkah sebelum dampaknya meluas.
“PKS mengusulkan untuk pelaku usaha perikanan di bawah 100 GT bisa mendapat harga semi subsidi sistem kuota untuk menghindari penyalahgunaan” tambah Riyono. (Red)
Editor : Redaksi